Memilih, tetapi bukan pilihan
Sebenarnya masih banyak cerita sebelum kejadian ini. Tetapi inilah awal cerita dimana saya memiliki seorang teman baru. Memilih teman baru, memilih teman untuk menjadi bagian dari keluarga besar itu. Saya sendiri bingung. Ketika saya harus memilih, siapa yang harus saya pilih. Saya bukan pemain lama di bidang ini. Ada banyak sekali orang yang menjadi pilihan buat saya. Melakukan seleksi yang cukup ketat. Terutama mengenal orang-orang yang saya wawancarai.
Ada syarat mutlak yang tidak saya sebutkan saat itu. Mau belajar, mau bekerja, susah bareng, seneng bareng. Kompetensi buat saya bukan hal utama, tetapi menjadi nilai tambah. Mau belajar, karena saya pemain baru, tentu saja saya juga masih belajar. Belajar memahami kondisi dan posisi saya. Oleh sebab itu, mau belajar menjadi syarat buat saya. Karena belum tentu saya bisa mengajari hal-hal yang saya sendiri belum memahami. Mau bekerja. Memang benar, bekerja di Kominfo bukanlah bekerja yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang berat. Disini kita santai. Tetapi tetap harus bekerja dan menyelesaikan tanggung jawabnya.
Bukankah menjadi keluarga besar itu harus tahu kondisi dan posisinya?. Prihatin jika susah, bahagia jika senang, dilalui bersama. Susah senang sama-sama. “Mangan ora mangan sing penting ngumpul”. Inilah poin yang sebenarnya ingin saya berikan. Namun, apadaya sampai saat ini tidak semua hal bisa tercapai kawan.
Ketiga syarat tersebut harus dimiliki orang tersebut. Dan inilah mereka yang menjadi teman dalam satu tahun kepengurusan ini. Han, Vizar, Lele, Aziz, Eko a.k.a Acong, Khusnul, Anoy, Masni, Bagus, dan Dito. Ya, kami bersebelas yang mengisi kursi untuk Kominfo 2011. Dan tanpa disadari, merekalah orang-orang yang dari awal menjadi pilihan saya. Tak perlu melihat keahlian mereka, tak perlu melihat kompetensi mereka. Tapi coba kita lihat kemauan mereka. Merekalah orang-orang yang mau ketika harus berpanas-panas pergi untuk bertemu rekan Kominfo. Entah saya yang berlebihan atau tidak, yang saya tahu mereka bukan orang yang hanya mengandalkan kemampuan dan keinginan untuk bergabung, tetapi mereka yang mau berkontribusi dari awal. Dan tidak setengah-setengah.
Inilah mereka, saya memilih. Tetapi saya tidak pernah memilih. Mereka bukanlah pilihan seperti baju di took baju. Mereka hadir karena wujud nyata kemampuannya. Takdir mungkin. Tuhan tahu itu. Sekali lagi. inilah mereka, inilah kita. Siap atau tidak bukanlah pilihan lagi.