Kehilangan Induk, rumah menjadi sepi.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Kehilangan induk adalah kondisi pada Akhir April hingga Mei yang dialami oleh keluarga kami. Ya, saya menelantarkan mereka begitu saja. Hanya sesekali melihat keadaannya, kemudian. Kembali menelantarkannya.

Bukan bermaksud meninggalkan. Tetapi karena manajemen Filter belum ada di Kominfo, saya harus memilih diantara dua jalan. Focus atau mencoba keluar. Dan saya memilih mencoba keluar. Melihat keadaan diluar Kominfo. Mengikuti beberapa kepanitiaan.

Saat itu, saya berfikir jika keluarga saya sedang saya sekolahkan. Begitu juga saya. Menyekolahkan diri saya sendiri. Namun berlebihan. Terlalu jauh saya sekolah. Terlalu jauh saya meninggalkan keluarga kecil saya. Akibat tindakan dan pilihan saya adalah, rumah menjadi sepi.

Maksudnya adalah program kerja yang dibentuk harus mundur dari timeline. Bukan salah mereka jika program kerja itu mundur. Tetapi salah saya. Salah  ketika mengemudikan kendaraan, dan saya harus berhenti terlebih dahulu.

Klasik, benar-benar masalah klasik. Dan akhir dari akibat itu adalah Kominfo mendapat beberapa sorotan. Kami belum siap untuk sorotan itu. Kami masih sekolah teman. Mungkin itu kata-kata sederhananya.

Benar-benar Kominfo kehilangan induk. Dan rumah menjadi sepi.

Disekolahkan dulu, biar Pinter.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Setiap orang butuh belajar, setiap orang butuh pengetahuan sebagai modal kerja nanti. Begitu juga dengan Kominfo. Saya pribadi memutuskan untuk menyekolahkan mereka. Caranya ?. mengikuti kepanitiaan dan membiarkan mereka berjalan apa adanya. Sedikit kejam mungkin. Membiarkan mereka pada gambaran umum mereka. Ide Besar. Membiarkan mereka mendapatkan ide besar mereka adalah hal yang luar bisa buat saya. Secara sederhana. Buku Link. Membiarkan mereka berfikir untuk menjalankan buku link agar tetap update. Bagaimana caranya ?. banyak. Tergantung ide besarnya. Dan itu mereka dapatkan. Sama halnya dengan kegiatan yang lain, Roadshow, SiYudi, Coprol. Membiarkan mereka berjalan sesuai dengan ide besar mereka.

Luluskah mereka?. Tentu. Mereka lulus dari sekolahnya. Mereka mendapatkan 3 pengalaman berharga. Pertama, mereka tahu bagaimana memposisikan diri pada suatu keadaan. Kedua, mereka siap untuk berfikir mandiri. Ketiga, mereka tahu rasanya kehilangan induk itu seperti apa.

Ada pertanyaan yang seharusnya ditanyakan oleh siapa saja yang tahu hal ini. Saya kerja apa ?. keluarga disekolahkan, kerja dibiarkan. Untuk apa ada saya kalau begitu ?. mungkin teman-teman dari Kominfo sendiri yang bisa menjawab.

Tujuan disekolahkan ini jelas, mereka harus belajar dulu. Mengapa saya mengambil langkah itu. Karena kami adalah pemain baru. Dan kami harus tahu kondisi kerja kami. Adakah efek disini ?. ada. Pasti ada efek dibalik tindakan ini.

Upgrading, Angin segar untuk perubahan

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Tidak dipungkiri, keluarga besar ini masih belum seutuhnya menjadi keluarga. 1-2 bulan tidak cukup untuk menjadi sebuah keluarga yang utuh, harmonis, dan kompak. Ada sisi lain yang masih belum terjangkau. Dan inilah salah satu cara untuk menjangkau persalahan itu. Sebuah Upgrading. Kegiatan Litbang. Konsep Outbond. Apa yang diharapkan dapet. Apa yang diinginkan kena. Tapi benarkah ini angin segar untuk perubahan ?.

Tidak semua angina segar itu dari kegiatan ini. Buktinya pada keluagra kecil ini. Kominfo masih memiliki hal-hal yang belum bisa dijangkau. Rasa kebersamaannya masih belum diperoleh 100%. 70% mungkin. Dengan upgrading setidaknya kita lebih sehat. Lebih bisa berfikir jernih. Dan bisa membedakan baik buruknya. Tentu saja tingkat keakrabannya bertambah.

Semoga yang saya tuliskan ini benar. Kominfo bukan satu-satunya keluarga yang merasakannya. Kita semua merasakan juga.

Setelah Habis, Terbitlah pengecualian.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Raker HMIF memutuskan bahwa staf Ahli hanya boleh mengikuti 2 kepanitiaan saja. Semua sepakat. Dan akrena kesepakatan itu keluarga ini harus memiliki manajemen sendiri tentang keputusan tersebut. Benar, dengan menghitung kemungkinan baik buruk ketika kita mengikuti suatu kepanitiaan.

Bukanlah keluarga jika tidak mempunyai masalah. Saat itu, Aziz, Acong, juga Lele masuk dalam 2 kepanitiaan. Aziz,Acong,Lele masuk dalam POSITIF dan EYD. Habis sudah jatah mereka. Selamat satu tahun kedepan mereka tidak diizinkan mengikuti kegiatan yang membutuhkan kepanitiaan. Mereka hanya boleh ikut dalam kegiatan yang ebrsifat tim kerja.

Hal tersebut tentu membuat kami tidak produktif. Seharunya mereka mengikuti kepanitian-kepanitian sebagai media pemanasan. Bukan tidak diijinkan kepanitiaan. Disinilah permasalahan itu menjadi menarik. Melibatkan Kominfo dan Litbang dalam hal Filtering. Bagaimana tindakan Litbang ?. coba Tanya mas Uffi sebagai Saliti (Staf Litbang yang betugas sebagai teman, penasehat di setiap divisi dan staf).

Hingga akhirnya diputuskan , Anggap saja poin mereka masih 0. Dengan kata lain kekhilafan kami dimaafkan. Inilah pengecualian yang saya maksudkan. Sebuah pelajaran besar untuk kita semua. Tentang manajemen tim, manajemen filtering. Perlu setiap divisi dan staf untuk memiliki manajemen tersebut. Bukan hanya Litbang yang mengaturnya. Tetapi KITA. Dan di Kominfo belum memiliki hal tersebut.

Saya pribadi sangsi ketika filtering dibuat agar kerja kita, tanggung jawab kita dikerjakan. Akahkah seperti itu ?. benarkah kesangsian itu terbukti ?. kita lihat saja nanti.

Berharap Lengkap.

Aktivitas pun dimulai, Rapat Kerja awal kepengurusan dimulai. sekali lagi, siap tidak siap. Semua harus berjalan. Satu harapan saya ketika itu. Keluarga saya hadir semua. Walau akhirnya ada satu orang yang yang tidak bisa hadir. Masniari. Dia masih di kampung halamannya.

Sedih, tapi hidup tetep berjalan teman. Disinilah kontribusi fisik dimulai. semua berkontribusi. Mulai dari menjadi dokumentasi, notulensim operator, kehadiran, doa, sms, dan banyak hal yang menurut saya itu adalah kontribusi nyata buat HMIF dan buat Kominfo.

Disinilah keisengan keempat dimulai. jargon kominfo Solid diperdengarkan. Namun bagaimana dengan gerakannya ?. tangan dikepal erat-erat. Dihentakkan ke dada. Berlebihan mungkin kata-katanya. Tetapi itulah wujudnya. Senang melihat hal itu terjadi. Kembali lagi, mereka berkontribusi untuk hal kecil yang kemudian menjadi besar.

Ketidakhadiran Masniari membuat banyak orang mempertanyakan kontribusinya. Apa ?. adakah ?. kenapa Masniari masuk Kominfo ?. kenapa?. Pertanyaan tersebut selalu hadir hampir disetiap pertemuan dengan fungsionaris saat itu. Biarlah, semua ada waktunya.

Melalui Raker HMIF, seluruh Divisi dan Staf Ahli memaparkan program kerja, rencana kedepan, dan memperkenalkan keluarga baru mereka. Begitu juga dengan Kominfo.

Salam Kominfo, Kominfo Solid!.

Kom

Keisengan yang bermakna bagian III

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Setelah keisengan tentang logo dan jargon. Kini keisengan itu hadir dari penamaan Program kerja. Iseng dari mana ?. ya, hampir semua program kerja diberi nama yang mudah diingat. Company Profile diubah menjadi Coprol. Yang sebelumnya Compile. Ya, semoga memiliki manfaat yang sama seperti Coprol jejaring sosia itu.

Buku link, menjadi Blink. Karena dengan kedipan itulah, buku link ada. Booklet, Awalnya bernama History. Tapi butuh suasana baru. Diganti menjadi Albotic, Static dan beberapa nama lagi. Akhirnya static yang dipilih. Karena makna kata yang kurang pas, gantilah Static dengan iOS.

Apakah keisengan itu disengaja ?. tentu. Dengan keisengan itu, mereka memulai kontribusinya. Dan pertanyaan yang sama kembali terulang. Apakah itu ide Saya ?. bukan. Itu ide mereka. Merekalah yang memulai keisengan itu, dan semoga mengakhirinya juga.

Keisengan yang bermakna Bag II

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Keisengan itu kembali terulang, kai ini tentang jargon Kominfo. Banyak masukan. Tetapi ada salah satu jargon yang menjadi pilihan semua anggota keluarga. SOLID!. Singkat, padat, berat, penuh makna. Dan jargon inilah yang akan selalu lantang dimanapun kominfo berada. Yup. Apakah itu buah pemikiran saya ?. bukan. Ini adalah pemikiran dari anggota keluarga kita. Aziz. Entah dapata kata-kata dari mana. Yang pasti inilah kata-kata yang semoga memberikan motivasi untuk keluarga ini.

Berakhirkah keisengan itu ?. entahlah. Mungkin ada lagi. Nanti.

Keisengan yang bermakna Bag I

Bukan saya yang seharusnya diberi penghargaan semisal kominfo mendapatkan penghargaan apapun itu. Tetapi setiap anggota keluarga kominfo-lah yang pantas mendapatkannya. Mengapa ?. benar, jika saya yang mengemudi kominfo unuk melewati jalanan selama satu tahun. Tetapi, merekalah yang membuat kendaraan itu. Merekalah yang mengisi dan memberikan warna pada kendaraan itu.

Sebagai salah satu bentuk pencitraan. Dan sebagai wujud eksistensi dari Kominfo, tentu kita membutuhkan sebuah tanda. Tanda yang menunjukkan keberadaan kita. Memang disisi keluarga besar, hal itu buruk. Terlihat kita memisahkan diri. Dan membentuk tanda itu. Tapi, disisi keluarga kecil ini, saya melihat bahwa kita membutuhkan tanda itu. Apa yang menyatukan kita ?. sebuah lambing HMIF ?. bukankan terlalu berat jika harus menggunakan lambing itu?. Garuda?. Lebih berat, itu Indonesia.

Dari pemikiran tersebutlah, saya berfikir untuk membuat sebuah tanda itu. Tapi hanya dalam angan saja. Hanya dalam pikiran saja. Lantas siapa eksekutornya ?.

Ketika dilakukan wawancara terhadap calon pengurus HMIF, khususnya Kominfo. Saya meminta kepada Anoy untuk membuat lambing kominfo. Alasannya adalah ketika diminta untuk menceritakan bagaimana Anoy itu, dia bilang anoy orang yang jago desain (kata temennya sih). Dan terbukti. Logo Kominfo yang akan selalu menyertai dokumen Kominfo 2011 itu terwujud. Dua buah mouse sebagai pengganti huruh ‘O’. lucu, unik, dan penuh makna.

Inilah wujud kerja mereka. Mereka pantas mendapatkan penghargaan itu.

Kominfo

 

Keluarga Baru.

Saya kenalkan keluarga baru yang hadir karena kemauan yang tinggi. Saya menyebut seperti itu. Karena sudah ada bukti untuk itu.

Pertama Han, Lengkapnya T Han Setiawan O. asyik,pinter, pengetahuannya luas. Salah satu orang yang masih mau ikut HM dan ikut Kominfo lagi. Kedua Vizar, Lengkapnya Novizar DH. Rame, pinter juga. Banget malah. Salah satu pemain baru. Sama seperti saya. Ketiga Lele, Lengkapnya Laila Nafisatun. Rame, boleh lah dibilang lemot. Dia juga salah satu orang yang masih mau gabung ke kominfo lagi. Keempat Anoy, lengkapnya Yuliana Sulistianingsih, rame juga. Asyik. Jago desain katanya. Next Ada Khusnul, tulisannya bagus. Mirip tulisan komputer (mirip Calibri ato arial gitu). Catetannya lengkap. Selanjutnya ada Masniari. Unik menurut saya. Dewasa jelas. Cara mau belajar dan melankolisnya dapet banget.

Selanjutnya, Acong. Aslinya Eko Widiyanto. Saya tidak tahu sejak kapan dipanggil acong. Cara berfikirnya unik. Semua dibuat santai. Tapi dapet. Yup dia yang cukup bisa mendinginkan suasana. Satu lagi, urusan koding, jangan kuatir. Ada lagi Aziz, Aziz Pradipta. Asyik diajak ngobrol. Rame, bisa jadi kakak buat yang lain. Sama, dia bisa mendinginkan suasana juga. Next, ada Bagus. Bagus Haryanto. Telaten (sepertinya) untuk urusan manage data. Sabar buat update ini itu. Asik juga orangnya. Dan terakhir ada Dito. Nuansa Alam Isnandito. Percaya dirinya tinggi. Siap buat apa aja. Walaupun eksekusinya masih kurang.

Dan itulah keluarga baru, sahabat baru, teman baru. Semua beda karakter. Dan semoga mereka bahagia menjadi keluarga baru itu.

Solid_copy_copy

Memilih, tetapi bukan pilihan

Sebenarnya masih banyak cerita sebelum kejadian ini. Tetapi inilah awal cerita dimana saya memiliki seorang teman baru. Memilih teman baru, memilih teman untuk menjadi bagian dari keluarga besar itu. Saya sendiri bingung. Ketika saya harus memilih, siapa yang harus saya pilih. Saya bukan pemain lama di bidang ini. Ada banyak sekali orang yang menjadi pilihan buat saya. Melakukan seleksi yang cukup ketat. Terutama mengenal orang-orang yang saya wawancarai.

Ada syarat mutlak yang tidak saya sebutkan saat itu. Mau belajar, mau bekerja, susah bareng, seneng bareng. Kompetensi buat saya bukan hal utama, tetapi menjadi nilai tambah. Mau belajar, karena saya pemain baru, tentu saja saya juga masih belajar. Belajar memahami kondisi dan posisi saya. Oleh sebab itu, mau belajar menjadi syarat buat saya. Karena belum tentu saya bisa mengajari hal-hal yang saya sendiri belum memahami. Mau bekerja. Memang benar, bekerja di Kominfo bukanlah bekerja yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang berat. Disini kita santai. Tetapi tetap harus bekerja dan menyelesaikan tanggung jawabnya.

Bukankah menjadi keluarga besar itu harus tahu kondisi dan posisinya?. Prihatin jika susah, bahagia jika senang, dilalui bersama. Susah senang sama-sama. “Mangan ora mangan sing penting ngumpul”. Inilah poin yang sebenarnya ingin saya berikan. Namun, apadaya sampai saat ini tidak semua hal bisa tercapai kawan.

Ketiga syarat tersebut harus dimiliki orang tersebut. Dan inilah mereka yang menjadi teman dalam satu tahun kepengurusan ini. Han, Vizar, Lele, Aziz, Eko a.k.a Acong, Khusnul, Anoy, Masni, Bagus, dan Dito. Ya, kami bersebelas yang mengisi kursi untuk Kominfo 2011. Dan tanpa disadari, merekalah orang-orang yang dari awal menjadi pilihan saya. Tak perlu melihat keahlian mereka, tak perlu melihat kompetensi mereka. Tapi coba kita lihat kemauan mereka. Merekalah orang-orang yang mau ketika harus berpanas-panas pergi untuk bertemu rekan Kominfo. Entah saya yang berlebihan atau tidak, yang saya tahu mereka bukan orang yang hanya  mengandalkan kemampuan dan keinginan untuk bergabung, tetapi mereka yang mau berkontribusi dari awal. Dan tidak setengah-setengah.

Inilah mereka, saya memilih. Tetapi saya tidak pernah memilih. Mereka bukanlah pilihan seperti baju di took baju. Mereka hadir karena wujud nyata kemampuannya. Takdir mungkin. Tuhan tahu itu. Sekali lagi. inilah mereka, inilah kita. Siap atau tidak bukanlah pilihan lagi.

Posterous theme by Cory Watilo